Validitas berasal dari bahasa Inggris dari kata validity yang berarti
keabsahan atau kebenaran. Dalam konteks alat ukur atau instrumen
asesmen, validitas berarti sejauh mana kecermatan atau ketepatan alat
ukur dalam melakukan fungsi ukurnya. Sebuah instrumen yang valid akan
menghasilkan data yang tepat seperti yang diinginkan.
1. Validitas menyatakan ketepatan interpretasi hasil bukan pada prosedurnya.
2. Validitas merupakan persoalan yang berkaitan dengan derajat (tingkatan)
3. Validitas selalu bersifat khusus untuk penggunaan atau interpretasi tertentu.
4. Validitas merupakan kesatuan konsep. Hakikat konsep validitas dipandang sebagai sebuah kesatuan konsep berdasark an berbagai macam bagian dari fakta.
5. Validitas melibatkan sebuah keputusan evaluatif yang menyeluruh.
Kata reliabilitas dalam bahasa Indonesia yang digunakan saat ini, sebenarnya diambil dari kata reliability dalam bahasa Inggris dan berasal dari kata reliable yang artinya dapat dipercaya,keajegan, konsisten, keandalan, kestabilan. Suatu tes dapat dikatakan reliabel jika tes tersebut menunjukkan hasil yang dapat dipercaya dan tidak bertentangan.
1. Validitas menyatakan ketepatan interpretasi hasil bukan pada prosedurnya.
2. Validitas merupakan persoalan yang berkaitan dengan derajat (tingkatan)
3. Validitas selalu bersifat khusus untuk penggunaan atau interpretasi tertentu.
4. Validitas merupakan kesatuan konsep. Hakikat konsep validitas dipandang sebagai sebuah kesatuan konsep berdasark an berbagai macam bagian dari fakta.
5. Validitas melibatkan sebuah keputusan evaluatif yang menyeluruh.
Kata reliabilitas dalam bahasa Indonesia yang digunakan saat ini, sebenarnya diambil dari kata reliability dalam bahasa Inggris dan berasal dari kata reliable yang artinya dapat dipercaya,keajegan, konsisten, keandalan, kestabilan. Suatu tes dapat dikatakan reliabel jika tes tersebut menunjukkan hasil yang dapat dipercaya dan tidak bertentangan.
Menurut Sugiono (2005) Reliabilitas
adalah serangkaian pengukuran atau serangkaian alat ukur yang memiliki
konsistensi bila pengukuran yang dilakukan dengan alat ukur itu
dilakukan secara berulang. Reabilitas tes adalah tingkat keajegan
(konsitensi) suatu tes, yakni sejauh mana suatu tes dapat dipercaya
untuk menghasilkan skor yang ajeg, relatif tidak berubah walaupun
diteskan pada situasi yang berbeda-beda. Sedangkan Sukadji (2000)
mengatakan bahwa reliabilitas suatu tes adalah seberapa besar derajat
tes mengukur secara konsisten sasaran yang diukur. Reliabilitas
dinyatakan dalam bentuk angka, biasanya sebagai koefisien. Koefisien
tinggi berarti reliabilitas tinggi.
Menurut Nursalam (2003) Reliabilitas
adalah kesamaan hasil pengukuran atau pengamatan bila fakta atau
kenyataan hidup tadi diukur atau diamati berkali–kali dalam waktu yang
berlainan. Alat dan cara mengukur atau mengamati sama–sama memegang
peranan penting dalam waktu yang bersamaan.
Menurut Arifin (1991), suatu tes dapat dikatakan andal (reliable)
jika tes tersebut mempunyai hasil yang taat asas (konsisten). Sedangkan
Sudjana (2004) mengatakan bahwa reliabilitas suatu tes adalah ketepatan
atau kejegan tes tersebut dalam menilai apa adanya, artinya kapan pun
tes tersebut digunakanakan memberikan hasil yang sama atau relatif sama.
Berdasarkan beberapa pendapat tentang
reliabilitas di atas, maka dapat diambil kesimpulan bahwa reliabilitas
adalah suatu pengukuran terhadap suatu tes yang melihat apakah tes
tersebut dapat mengukur apa yang seharusnya di ukur.
B. Jenis- Jenis Reliabilitas
Salah satu syarat agar hasil suatu tes
dapat dipercaya adalah tes tersebut harus mempunyai reliabilitas yang
memadai. Oleh karena itu Jaali dan Pudji (2008) membedakan reliabilitas
menjadi 2 macam, yaitu :
- Reliabilitas Konsistensi tanggapan, dan
- Reliabilitas konsistensi gabungan item
Reliabilitas ini selalu mempersoalkan
mengenai tanggapa responden atau objek terhadap tes tersebut apakah
sudah baik atau konsisten. Dalam artian apabila tes yang telah di
cobakan tersebut dilakukan pengukuran kembali terhadap obyek yang sama,
apakah hasilnya masih tetap sama dengan pengukuran sebelumnya. Jika
hasil pengukuran kedua menunjukkan ketidakonsistenan, maka hasil
pengukuran tersebut tidak mengambarkan keadaan obyek yang sesungguhnya.
Untuk mengetahui apakah suatu tes atau instrument tersebut sudah mantap
atau konsisten, maka tes/instrument tersebut harus diuji kepada obyek
ukur yang sama secara berulang-ulang.
Ada tiga mekanisme untuk memeriksa reliabilitas tanggapan responden terhadap tes (Jaali ; 2008) yaitu :
- Teknik test-retest ialah pengetesan dua kali dengan menggunakan suatu tes yang sama pada waktu yang berbeda.
- Teknik belah dua ialah pengetesan (pengukuran) yang dilakukan dengan dua kelompok item yang setara pada saat yang sama.
- Bentuk ekivalen ialah pengetesan (pengukuran) yang dilakukan dengan menggunakan dua tes yang dibuat setara kemudian diberikan kepada responden atau obyek tes dalam waktu yang bersamaan.
Reabilitas ini terkait dengan konsistensi
antara item-item suatu tes atau instrument.. Apabila terhadap bagian
obyek ukur yang sama, hasil pengukuran melalui item yang satu
kontradiksi atau tidak konsisten dengan hasil ukur melalui item yang
lain maka pengukuran dengan tes (alat ukur) sebagai suatu kesatuan itu
tidak dapat dipercaya. Untuk itu jika terjadi hal demikian maka kita
tidak bisa menyalahkan obyek ukur, melainkan alat ukur (tes) yang
dipersalahkan, dengan mengatakan bahwa tes tersebut tidak reliable atau
memiliki reliabilitas yang rendah.
Koefisien reliabilitas konsistensi gabungan item dapat dihitung dengan menggunakan 3 rumus (Jaali 2008), yakni :
- Rumus Kuder-Richardson, yang dikenal dengan nama KR-20 dan KR-21.
- Rumus koefisien Alpha atau Alpha Cronbach.
- Rumus reliabilitas Hoyt, yang menggunakan analisis varian.